Selasa, 13 September 2016

'Sudah 15 Tahun Berlalu, Namun Isteri & Anak-Anak Masih Kirimkan Doa...'



Suatu hari saya terlanggar dengan seseorang yang saya tidak kenal.

"Oh, maafkan saya," reaksi spontan saya.

"Maafkan saya juga," katanya.

Orang itu dan saya bertegur sangat sopan. Kami pun berpisah dan mengucapkan salam. Namun ceritanya menjadi lain apabila sampai di rumah.

Sedang saya menelefon salah seorang rakan sekerja dengan penuh bahasa, lembut dan santun untuk meraih/melobi simpatinya, tiba-tiba anak lelaki saya berdiri diam-diam di belakang. Ketika saya hendak berpusing, hampir saya menyebabkan dia terjatuh.

"Pergi main di sana! Mengganggu betullah!!" jerit saya dengan nada marah.

Lalu dia berlalu pergi dengan hati yang hancur dan merajuk.

Ketika saya berbaring di tempat tidur pada malam itu, dengan halus malaikat berbisik,

"Tuhan menyuruh aku mencabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang. Namun sebelum itu, Tuhan mengizinkan kau melihat lorong waktu sesudah kematianmu.

"Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang kau tidak kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Akan tetapi dengan anak sendiri, kau perlakukan dengan kasar. Akanku perlihatkan engkau setelah kematianmu hari ini bagaimana keadaan majikanmu, sahabatmu, sahabat dunia mayamu serta keadaan keluargamu," bisik malaikat itu.

Lalu saya pun melihat di hari dan saat jenazah saya diletakkan di ruang keluarga. Hanya seorang sahabat dunia maya yang datang. Selebihnya hanya mendoakan di dalam group. Bahkan ada juga yang tidak memberikan sebarang ucap kata di atas pemergian saya dan ada juga yang hanya menulis 'Al-fatihah', ada juga yang kata 'RIP' (Rest In Peace).

Kawan sekerja saya datang seketika untuk melihat jenazah saya. Lalu mereka merakam gambar dan bercerita. Bahkan ada yang asyik membicarakan aib saya sambil tersenyum-senyum.

Bos yang saya hormati hanya datang sebentar melihat jenazah saya dalam beberapa minit, kemudian pulang. Sahabat-sahabat saya, tiada seorang pun dari mereka yang saya lihat. Lalu saya melihat anak-anak menangis di pangkuan ibunya. Yang kecil berusaha menggapai jenazahku meminta saya bangun. Namun ibunya menghalang. Isteri pula jatuh pengsan berkali-kali, tidak pernah saya melihat dia sebingung itu.

Lalu saya teringat betapa seringkalinya saya acuh tidak acuh dengan panggilannya yang mengajak saya berbual. Saya selalu sibuk dengan handphone, dengan kawan-kawan, teman-teman dunia maya. Lalu saya melihat anak-anak yang sering diherdik dan dibentak di saat saya sedang asyik dengan handphone. Sedangkan mereka pada saat itu meminta perhatian dari saya.

"Oh Tuhan, maafkanlah saya.."

Lalu saya melihat tujuh hari selepas kematian, para sahabat sudah melupakan diri saya. Sampai detik ini, saya tidak lagi mendengar doa mereka untuk saya. Pihak pejabat juga telah menggantikan saya dengan kakitangan yang lain. Sahabat-sahabat dunia maya pula masih sibuk dengan perbualan di group tanpa ada yang berbicara tentang saya ataupun bersedih terhadap ketiadaan saya di group mereka.

Namun, isteri saya masih pucat dan menangis. Air matanya selalu menitis di saat anak-anak bertanya,

"Mama, mana papa?"

Dia kelihatan begitu longlai dan pucat.

"Ke mana semangatmu wahai isteri? Oh Tuhan, maafkan saya,"

Hari ke 40 semenjak saya tiada, teman-teman Facebook lenyap secara drastik. Semuanya sudah memutuskan hubungan dengan saya, seolah-olah tidak ingin lagi melihat kenangan saya semasa hidup. Majikan dan teman-teman sekerja tidak ada seorang pun yang mengunjungi kubur saya mahupun sekadar mengirimkan doa. Lalu saya melihat keluarga saya yang mana isteri sudah mampu tersenyum. Namun tatapannya masih kosong. Anak-anak kecil pula masih bertanya bila ayah mereka akan pulang. Anak yang paling kecil adalah yang paling saya sayang, masih selalu menunggu di jendela menanti kepulangan saya.

Sudah 15 tahun berlalu, saya melihat isteri sudah menyiapkan makanan untuk anak-anak. Kedutan-kedutan tua sudah mulai kelihatan di wajahnya. Dia tidak pernah lupa mengingatkan anak-anak bahawa hari ini hari Jumaat, jangan lupa solat.

Saya ternampak secebis kertas milik anak perempuan. Dia menulis,

"Seandainya saya masih mempunyai ayah, pasti tiada lelaki yang berani berkelakuan tidak sopan dengan saya sambil saya tidak melihat mama sakit mencari nafkah seorang diri untuk kami. Oh Tuhan, mengapa Kau mengambil ayah saya? Saya perlukan ayah saya. Ya Allah...," tulisnya di kertas yang masih basah kerana titisan air matanya.

Ya Allah, maafkanlah saya. Sampai bertahun-tahun anak-anak dan isteriku masih terus mendoakan saya agar sentiasa berbahagia di akhirat sana.

Kemudian aku terbangun.

"Oh Tuhan, syukur saya hanya sekadar bermimpi sahaja,"

Perlahan-lahan saya pergi ke bilik tidur anak dan berlutut di tempat tidurnya. Saya masih melihat air mata di sudut matanya. Kasihan, terlalu keras saya mengherdik mereka.

"Anakku, papa sangat menyesal kerana telah berlaku kasar padamu. Papa sayang sangat padamu. Maafkan papa sayang," lantas diri memeluk si kecil itu dan mencium pipi serta keningnya.

Lalu saya melihat isteri yang sedang tidur lena. Isteri dengan sapaannya sering saya tidak hiraukan ajakannya untuk berbicara. Seringkali saya berpura-pura tidak mendengarnya. Bahkan pesanan darinya saya sering anggap tidak bermakna.

"Maafkan saya, maafkan saya,"

Air mata saya tidak dapat dibendung lagi, apakah kita menyedari bahawa jika kita mati esok pagi, jabatan di mana kita bekerja akan mudah mencari pengganti kita? Teman-teman yang melupakan kita sebagai cerita yang sudah berakhir. Malah ada rakan-rakan kita yang masih menceritakan kelemahan yang tidak sengaja dilakukan. Teman-teman dunia maya juga tidak pernah membicarakan lagi tentang hal kita. Seolah-olah saya tidak pernah wujud di dalam group mereka.

Lalu saya merebahkan diri di samping isteriku. handphone aku masih terus bergetar. Berpuluh-puluh notifikasi masuk menggoda aku untuk membukanya. Tetapi tidak untuk kali ini, saya matikan handphone dan aku pejamkan mata. Bukan kalian yang akan membawa saya ke syurga. Bukan kalian yang akan menolong saya dari api neraka tetapi keluarga saya. Keluarga yang jika kita tinggalkan akan merasa kehilangan selama sisa hidup mereka. - Dr Fadzillah Kamsah |

Tiada ulasan:
Write ulasan